Handout Kuliah 10: Penyelesaian Sengketa

August 25, 2007

 PENYELESAIAN SENGKETA.

Sumber: buergenthal dan maier, 1990; shelton, 2006.  

Sifat:

  •      Penyelesaian secara damai.

  •      Penyelesaian dengan kekuatan.

 Dasar Pengaturan:

  •      Article 2 (3) UN Charter, requires all members to: “settle their international disputes by peaceful means in such a manner that international peace and security, and justice, are not endangered”.

  •      Article 33 UN Charter: “The parties to any dispute, the continuance of which is likely to endanger the maintenance of international peace and security, shall, first of all, seek a solution by negotiation, enquiry, mediation, conciliation, arbitration, judicial settlement, resort to regional agencies or arrangements, or other peaceful means of their choice”.

 Metode Penyelesaian Damai:

  •      Metode Non-yudisial (non-judicial method).

  •      Metode semi-yudisial (quasi-judicial method).

  •      Metode yudisial melalui pengadilan (Judicial method).

 Non-judicial method:

  •      Metode tradisional:

  •     Negosiasi.

  •     Inquiri.

  •     Mediasi.

  •     Konsiliasi.

  •     Kombinasi negosiasi, mediasi, dan konsiliasi.

 Quasi-judicial method:

  •      Arbitrase

  •     Perbedaan dengan adjudikasi lain.

  •     Klausa arbitrase/perjanjian arbitrase.

  •     Consent to arbitrate.

  •   Compromis

  •     Komposisi majelis arbitrase.

  •     Putusan (award)

  •     Hukum yang berlaku (applicable law) dan sumber hukum.

  •     Arbitrase internasional.

 Judicial method:

  •      Lembaga yudisial internasional yang permanen. International Court of Justice (ICJ).

  • Contentious jurisdiction. (Yurisdiksi/kewenangan menyelesaikan sengketa)

  •     Advisory jurisdiction. (Yurisdiksi/kewenangan memberikan nasehat hukum/pendapat hukum)

 ICJ-Contentious jurisdiction:

  •      Dasar
  •      Asas timbal balik (reciprocity).
  •      Pertimbangan keamanan nasional.
  •      Efek dan pelaksanaan putusan. 

ICJ-advisory jurisdiction:

  •      Skopa.
  •      Ciri hukum.
  •      Contoh:
    •     1962, keputusan Court tentang biaya-biaya pemeliharaan perdamaian (peacekeeping expenses) di Republic of Congo dan Timur Tengah melahirkan “expenses of the organization” yang dibiayai oleh negara-negara anggota PBB dengan porsi yang ditentukan oleh General Assembly. 

Peradilan Internasional lain:

  •      International Criminal Court (ICC)
  •      Court of justice of the European Communities.
  •      European Court of Human Rights.
  •      Inter-American Court of Human Rights.

Semuanya merupakan lembaga peradilan yang bersifat permanen. 

Penyelesaian dengan kekuatan (Use of Force):

  •      Jika penyelesaian secara damai gagal.
  •      Penggunaan kekuatan (the use of force).
  •      Pemeliharaan perdamaian oleh PBB (UN Peacekeeping).
  •      Pemeliharaan perdamaian oleh organisasi regional.
  •      Perjanjian pertahanan regional 

Penggunaan kekuatan (the use of force):

  •      Pasal 37(1) Piagam PBB.
  •      Kewenangan Dewan Keamanan.
  •      Namibia case, 1971, ICJ adv.op.
  •      Peran Majelis Umum dan Sekretaris Jenderal.
  •      Pembelaan diri (self-defense).
  •      Tujuan kemanusiaan (humanitarian objectives). 

Pemeliharaan Perdamaian PBB (Peacekeeping):

  •      Kewenangan Dewan Keamanan.
  •      Penerapan sanksi.
  •      Kasus Uniting for Peace Resolution (1950).
  •      Unarmed observer atau personel militer.
    •     Dimulai tahun 1948 (Konflik Israel-Palestina). Observer sipil.
    •     1956, pasukan perdamaian pertama: Suez.
  •      Keberhasilan dan kegagalan.
  •      Biaya yang mahal.
  •      Sampai 2004:
    •     Terdapat 59.000 personel dalam 16 operasi di seluruh dunia. (1994: 79.000).
    •     130 negara telah berperan dalam 59 operasi.
    •     Telah jatuh korban: 1.800 peacekeepers.
    •      Peacekeeping oleh organisasi regional:
      •     Dasar: Pasal 52-54 Piagam PBB.
      •     Atas otorisasi dari Dewan Keamanan. 

TUGAS 1: Peran INDONESIA. 

Perjanjian pertahanan regional:

  • Interpretasi Pasal 51 Piagam PBB: “Nothing in the present Charter shall impair the inherent right of individual or collective self-defense if an armed attack occurs against a Member of the United Nations, until the Security Council has taken measures necessary to maintain international peace and security. Measures taken by Members in the exercise of this right of self-defense shall be immediately reported to the Security Council and shall not in any way affect the authority and responsibility of the Security Council under the present Charter to take at any time such action as it deems necessary in order to maintain or restore international peace and security”
  • Tujuan: Menyediakan collective self defense.
  • NATO; Pakta Warsawa; SEATO. 

International Criminal Court (ICC):

TUGAS 2: Jelaskan sejarah pembentukan Rome Statute.

  •      Rome Statute, 1988.
    • To try and punish individuals for the most serious crimes of international concern: genocide, crimes against humanity, crimes of agression, and war crimes.
  •      Terwujud per 1 Juli 2002 setelah diratifikasi oleh 60 negara.
  •      Yurisdiksi global. 

Perbedaan dengan ICJ:

  • Shelton:
    • ICC is not an organ of the United Nations.
    • The ICC handles cases involving individual criminal responsibility, whereas the ICJ mainly decides legal disputes between nations. 

Yurisdiksi ICC:

  • The most serious crimes of international concern if they are committed after July 1, 2002, either:
    • By a citizen if a nation that accepts the statute, or
    • By a person of any nationality on the territory of a nation that accepts the statute.
  • Nations that are not parties to the statute may voluntarily accept the court’s jurisdiction on a case-by-case basis.
  • UN SC can grant the court jurisdiction for a specific situation even when the nation in which the crime occurred is not a party to the statute.
  • Criminal case: when a national court is unwilling or unable to carry out the investigation or prosecution.
  • There is no exemption for the head of states, legislators, and other high-ranking government officials.
  • Crimes in the court’s jurisdiction are not subject to a statute of limitation; there is no time limit on bringing charges. 

TUGAS 3: Apakah Amerika Serikat meratifikasi Rome Statute? Apa yang menjadi dasar argumentasi AS? 

Kejahatan yang diadili ICC:

  •      Genocide;

  •      Crimes against humanity;

  •      War crimes;

  •      Crimes of aggression – (membutuhkan keputusan dari Assembly of State Parties).

  •      GENOCIDE: The commission of certain acts with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnic, racial, or religious group.

  •      CRIMES AGAINST HUMANITY: Certain acts committed as part of a widespread or systematic attack against any civilian population.

  •       WAR CRIMES: Acts prohibited by the 1949 Geneva Conventions on the law of war and 26 other serious violations of the laws and customs of war including pillage, using of poison weapon or poison gas etc. Civil war but excludes “internal disturbances”.

 TUGAS 4: Apakah kasus Timor Timur pasca referendum dapat digolongkan dalam jenis kejahatan ini? 

Struktur dan Administrasi ICC:

  •      Hakim (the Judges); 18 judges.

  •     Elected by the Assembly of States Parties.

  •     Expert either in criminal law and procedure or in relevant areas of international law, such as human rights law or the law of armed conflict.

  •     Single term: 9 years.

  •     No two judges of the same nationality.

  •      Administrasi: 

  •     Para hakim dipimpin oleh Presidency: a president, first vice president, and second vice president. Elected by the court’s judges for three-year terms.

  •     Pretrial, trial, and appeal chambers.

  •      Pretrial: authorize investigations by the prosecutor. May issue orders, warrants, and summons. Victim and witness protection and ensure due process for the accused.

  •      Trial: conduct a fair, speedy trial to convict or acquit the accused, and to sentence the convicted.

  •      Appeal: to reverse or amend conviction and sentences and to order new trials.

  •      The Registrar (Panitera). Elected by the judges to a five-year term.

  •      The Prosecutor (Penuntut).

  •     Conducting investigations and prosecutions.

  •     Elected by the Assembly of States Parties; for a single nine-years term.

Handout Kuliah 9: Hukum Laut

August 25, 2007

HUKUM LAUT.

Sumber: Starke, Mochtar Kusumaatmadja.  

Aturan dan Doktrin penting:

  • ¢    Doktrin Grotius: Tiada samudera yang dapat menjadi milik suatu bangsa. Laut lepas adalah hak segala bangsa (res gentium); bukan barang komersial (res extra commercium).
  • ¢    Prinsip kebebasan laut lepas (Hall).
  • ¢    Konvensi Hukum Laut PBB 1982 / UNCLOS (UN Convention on the Law of the Sea) 

Laut Teritorial dan Jalur Tambahan:

  • ¢    Kedaulatan suatu negara pantai terbentang di luar teritorial darat dan perairan di dalamnya, dan dalam hal negara kepulauan, perairan kepulauan terbentang sampai ke laut teritorial, ruang angkasa di atasnya dan dasar laut serta laporan tanah di bawahnya. Lebar: 12 mil dari garis dasar.
  • ¢    Jalur tambahan (contiguous zone): negara pantai boleh melaksanakan pengawasan dalam jalur tersebut yang penting untuk mencegah pelanggaran atas bea cukai, fiskal, imigrasinya atau hukum dan peraturan kesehatan dalam lingkup teritorium dan laut teritorialnya, serta menghukum pelanggarnya. 

Rezim baru UNCLOS:

  • ¢    Selat yang dipakai untuk pelayaran internasional.
  • ¢    Perairan negara kepulauan (archipelagic state).  

Zona Ekonomi Eksklusif:

  • ¢    Suatu bidang di luar dan yang berbatasan dengan laut teritorial, yang tidak melampaui 200 mil laut dari garis dasar, darimana lebar laut teritorial itu diukur (yaitu yang 200 mil laut itu tidak diukur dari batas-batas luar laut teritorial). 

Landas Kontinen:

  • ¢    Terdiri dari dasar laut dan lapisan tanah sebelah bawah dari wilayah dasar laut yang melampaui laut teritorialnya di seluruh perpanjangan alamiah wilayah daratnya ke pinggir luar batas benuanya, atau sampai sejauh 200 mil dari garis dasar, darimana luas laut teritorial diukur bila pinggir luar batas benua tdk sejauh itu. 

Laut Bebas:

  • ¢    Hanya berlaku bagi bagian-bagian laut yang tidak termasuk ZEE, di laut-laut teritorial atau perairan intern negara-negara atau di perairan kepulauan dari negara-negara kepulauan.
  • ¢    Terbuka bagi semua negara, dengan memperhatikan kepentingan negara lain yang juga punya kebebasan.  

Perbudakan; Pembajakan; Perdagangan Narkotika:

  • ¢    Kewajiban semua negara mencegah perbudakan / pengangkutannya.
  • ¢    Pembajakan: jure gentium. Musuh umat manusia (hostis humani generis)
  • ¢    Kerjasama negara-negara memerangi pengangkutan narkotika / psikotropika 

Siaran tidak sah; Pengejaran; Pelestarian:

  • ¢    Kerjasama negara atas siaran tidak sah.
  • ¢    Pengejaran harus memperhatikan rejim laut teritorial, zona tambahan, ZEE, dan laut bebas.
  • ¢    Negara pantai harus menentukan penangkapan sumber daya hayati yang diperbolehkan dalam ZEE. 

Pulau; Laut tertutup/setengah tertutup:

  • ¢    suatu bidang tanah yg terbentuk secara alamiah yg dikelilingi air, dan yg berada di atas air pada waktu pasang naik.
  • ¢    Sebuah teluk, basin atau laut yg dikelilingi dua atau lebih negara & yg dihubungkan dengan laut atau lautan oleh saluran keluar yg sempit. Seluruh atau sebagian: laut wilayah & ZEE dua atau lebih negara pantai. 

Hak Akses; Kawasan; Perlindungan dan Pengamanan:

  • ¢    Hak akses negara tertutup (land-locked state).
  • ¢    Dasar laut (seabed)& dasar samudera & lapisan tanah di bawahnya.
  • ¢    Perlindungan lingkungan laut dari ancaman polusi.  

Handout Kuliah 8: Tanggung jawab Negara

August 25, 2007

TANGGUNG JAWAB NEGARA. 

Sifat dan Macam:

  •      Terbatas pada tanggung jawab negara untuk tindakan-tindakan salah secara internasional.

  •      Kesalahan: a) tindakan; b) kelalaian.

  •      Ditentukan oleh norma-norma internasional.

  •      Termasuk sejauh mana keterlibatan negara dalam pengendalian kegiatan yang sangat berbahaya.

  •      Prinsip tanggung jawab internasional negara federal.

  •      Tanggung jawab Negara federal atas kerugian yang ditimbulkan oleh negara bagian sama dengan tanggung jawab dalam hal negara kesatuan.

  •      Batasan hkm internasional & hkm nasional

  •      Pelanggaran yang menimbulkan tanggung jawab.

  •      Supremasi hkm internasional atas hkm nasional.

  • l     Pembelaan (defence) & pembenaran (justification)

  •      Paksaan negara lain

  •      Izin dari negara yang dipengaruhi

  •      Tindakan balasan

  •      Force majeure

  •      Keharusan (necessity)

  •      Bela diri (self-defence)

Pelanggaran Perjanjian; Pengambilalihan harta milik:

  •      Prinsip “setiap pelanggaran perjanjian mengakibatkan kewajiban untuk membuat ganti rugi”.

  •      Pengambilalihan:

  •      Untuk tujuan umum / kepentingan umum

  •      Tidak mendiskriminasikan orang asing

  •      Tidak melibatkan suatu perbuatan tidak beres yang tidak pada tempatnya.

  •      Klausula Calvo (Calvo clause)

  •      Pemegang konsesi asing melepaskan perlindungan atau bantuan pemerintahnya dalam setiap masalah yang timbul dari kontrak.

  •      Kontrak pemerintahan di Amerika Tengah dan kontraktor asing. 

  •      Utang

  •      a) Teori campur tangan; b) Doktrin Drago; c)Kewajiban negara pengutang serupa dengan kewajiban perjanjian internasional.

TUGAS 1: Doktrin Calvo dan Doktrin Drago.  

Tanggung Jawab Pelanggaran Internasional:

  •      Tidak terkait dengan kewajiban kontraktual.

  •      Kerugian yang diderita warga negara di luar negeri.

  •      Imputabilitas (hal dapat dipertalikan): a) perilaku organ / pejabat negara dalam pelanggaran kewajiban hukum internasional; b) menurut hukum dapat dipertalikan kepada negara.

  •      Tanggung jawab negara & teori kesalahan

  •      Suatu negara tidak bertanggung jawab kepada negara yang satu lagi atas tindakan tidak sah yang dilakukan oleh wakilnya kecuali kalau tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja dengan maksud jahat atau dengan kelalaian yang patut dicela.

Tuntutan Ganti Rugi:

  •      Jika ada hak, negara berhak campur tangan  diplomatik / mengajukan tuntutan ganti rugi.

  •      Begitu negara mengambil perkara atas nama salah satu rakyatnya di depan pengadilan internasional, negara itu adalah satu-satunya penuntut.

  • Nottebohm case; I’m Alone case.

  •      Ganti kerugian

  •      Kerugian yang diderita oleh  individu tidak identik jenisnya dengan kerugian suatu negara; kerugian itu hanya memberikan suatu skala yang cocok untuk perhitungan ganti rugi yang harus diberikan kepada negara itu” (Chorzow case).

  •      Restitusi. Reparasi.

  •      Kerugian individu. Kerugian negara penuntut.

 TUGAS 2: Nottebohm case.

August 25, 2007

TANGGUNG JAWAB NEGARA.

  Sifat dan Macam:

  •      Terbatas pada tanggung jawab negara untuk tindakan-tindakan salah secara internasional.

  •      Kesalahan: a) tindakan; b) kelalaian.

  •      Ditentukan oleh norma-norma internasional.

  •      Termasuk sejauh mana keterlibatan negara dalam pengendalian kegiatan yang sangat berbahaya.

  •      Prinsip tanggung jawab internasional negara federal.

  •      Tanggung jawab Negara federal atas kerugian yang ditimbulkan oleh negara bagian sama dengan tanggung jawab dalam hal negara kesatuan.

  •      Batasan hkm internasional & hkm nasional

  •      Pelanggaran yang menimbulkan tanggung jawab.

  •      Supremasi hkm internasional atas hkm nasional.

  •      Pembelaan (defence) & pembenaran (justification)

  •      Paksaan negara lain

  •      Izin dari negara yang dipengaruhi

  •      Tindakan balasan

  •      Force majeure

  •      Keharusan (necessity)

  •      Bela diri (self-defence)

 Pelanggaran Perjanjian; Pengambilalihan harta milik:

  •      Prinsip “setiap pelanggaran perjanjian mengakibatkan kewajiban untuk membuat ganti rugi”.

  •      Pengambilalihan:

  •      Untuk tujuan umum / kepentingan umum

  •      Tidak mendiskriminasikan orang asing

  •      Tidak melibatkan suatu perbuatan tidak beres yang tidak pada tempatnya.

  •      Klausula Calvo (Calvo clause)

  •      Pemegang konsesi asing melepaskan perlindungan atau bantuan pemerintahnya dalam setiap masalah yang timbul dari kontrak.

  •      Kontrak pemerintahan di Amerika Tengah dan kontraktor asing. 

  •      Utang

  •      a) Teori campur tangan; b) Doktrin Drago; c)Kewajiban negara pengutang serupa dengan kewajiban perjanjian internasional.

TUGAS 1: Jelaskan makna Doktrin Calvo dan Doktrin Drago. 

Tanggung Jawab Pelanggaran Internasional:

  •      Tidak terkait dengan kewajiban kontraktual.

  •      Kerugian yang diderita warga negara di luar negeri.

  •      Imputabilitas (hal dapat dipertalikan): a)perilaku organ / pejabat negara dalam pelanggaran kewajiban hukum internasional; b)menurut hukum dapat dipertalikan kepada  negara.

  •      Tanggung jawab negara & teori kesalahan

  •      Suatu negara tidak bertanggung jawab kepada negara yang satu lagi atas tindakan tidak sah yang dilakukan oleh wakilnya kecuali kalau tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja dengan maksud jahat atau dengan kelalaian yang patut dicela.

 Tuntutan Ganti Rugi:

  •      Jika ada hak, negara berhak campur tangan  diplomatik / mengajukan tuntutan ganti rugi.

  •      Begitu negara mengambil perkara atas nama salah satu rakyatnya di depan pengadilan internasional, negara itu adalah satu-satunya penuntut.

  •      Nottebohm case; I’m Alone case.

  •      Ganti kerugian

  •      Kerugian yang diderita oleh  individu tidak identik jenisnya dengan kerugian suatu negara; kerugian itu hanya memberikan suatu skala yang cocok untuk perhitungan ganti rugi yang harus diberikan kepada negara itu” (Chorzow case).

  •      Restitusi. Reparasi.

  •      Kerugian individu. Kerugian negara penuntut.

TUGAS 2: Nottebohm case.

Handout Kuliah 6: Yurisdiksi

August 25, 2007

YURISDIKSI.  Umum:

  • Dalam praktek berbeda untuk tiap negara.

  • Lotus case (1927).

  •  Asas normal: asas territorial yurisdiksi.

 Yurisdiksi Teritorial:

  • Kewenangan negara utk menjalankan yurisdiksi atas orang, benda, perbuatan dan hal-hal yg terjadi di dalam wilayahnya.  Ciri penting negara merdeka berdaulat (Lord Macmillan, 1938).  

  • Teritorial, laut teritorial, kapal berkebangsaan negara, dan pelabuhan.

Pelabuhan:

  • Asas umum: kapal niaga yang memasuki pelabuhan negara asing tunduk kepada yurisdiksi negara tersebut. Pengecualian: keadaan kesukaran.

Perluasan yurisdiksi teritorial:

  • Asas teritorial subyektif: Geneva convention for the suppression of counterfeiting currency (1929) dan Geneva convention for the suppression of the illicit drug traffic (1936).

  • Asas teritorial obyektif: Lotus case 1927. Perusahaan multinasional.

Yurisdiksi teritorial atas orang asing:

  •      Sejauh mungkin seperti warganegara dari negara teritorial. Tak ada presumsi imunitas.

  •      Akan ada imunitas: Imunitas khusus & Hukum setempat tak sesuai hukum internasional.

  •      Yurisdiksi kriminal teritorial: Kejahatan harus diadili oleh negara yang terganggu/ terlanggar ketertiban sosialnya.

  •      Pembebasan yurisdiksi teritorial: Negara asing & kepala negara asing; Wakil-wakil diplomatik; Kapal-kapal (public ships) negara asing.

  •      Prinsip imunitas yurisdiksional: Par in parem non habet imperium; Resiprositas / komitas; Tindak bersahabat; Konsesi imunitas; Diluar yurisdiksi peradilan.

  •      Aspek: Imunitas terhadap tuntutan peradilan & Imunitas harta benda milik negara asing / kepala negara asing.

  •      Imunitas yurisdiksional agen diplomatik: imunitas mutlak dari yurisdiksi kriminal, kecuali tindakan pribadi.

  •      Yurisdiksi atas kapal umum negara asing: Teori “pulau terapung” (floating island theory) & Teori obyektif.

  •      Angkatan perang negara asing: Imunitas terbatas

  •      Lembaga internasional: Imunitas yurisdiksi teritorial.

 Yurisdiksi Individual:

  •      Tergantung kualitas orang yang terlibat dalam peristiwa hukum.

  •      Prinsip Nasionalitas aktif.

  •      Prinsip Nasionalitas pasif.

 Prinsip Perlindungan:

  •      Mendasari kewenangan negara  menjalankan yurisdiksi terhadap kejahatan yang mengenai keamanan dan integritasnya atau kepentingan ekonomi yang vital.

 Prinsip Universal:

  •      Pelanggaran yang terjadi dalam yurisdiksi semua negara di mana saja perbuatannya itu dilakukan. Delik jure gentium.

  •      Contoh: Bajak laut, kejahatan perang, genocide, perdagangan narkotika, perdagangan manusia, pemalsuan uang, terorisme.

 Yurisdiksi pesawat terbang:

  •      Konvensi Tokyo 1963; Konvensi Den Haag 1970; Konvensi Montreal 1971.

  •      Terorisme internasional. 11 september 2001.

 

Handout Kuliah 5: Kedaulatan

August 25, 2007

KEDAULATAN.

Sumber: Starke, 1989; Brownlie, 1979. 

Rejim Hukum terhadap Ruang Wilayah:

  • Kedaulatan teritorial
  •  Wilayah yang tidak tunduk pada kedaulatan suatu negara
  • res nullius.
  • res communis.

Kedaulatan teritorial:

l     Di daerah teritorial tertentu yurisdiksi dijalankan oleh negara atas orang-orang dan harta benda.

l     Wilayah daratan dan ruang udara di atasnya, laut wilayah dan ruang udara di atasnya, dasar dan wilayah di bawah dasar laut wilayah. Pulau, karang, koral, dll. 

Kedaulatan dan Kemerdekaan:

l     “Kedaulatan dalam hubungan antara negara-negara menandakan kemerdekaan. Kemerdekaan berkenaan dengan suatu bagian dari muka bumi ini adalah hak untuk melaksanakan di dalamnya… fungsi-fungsi suatu negara” (Max Huber; Island of Palmas arbitrator) 

Cara perolehan Kedaulatan:

l     Pendudukan (Occupation)

l     Pencaplokan (Annexation)

l     Akresi (Accretion)

l     Preskripsi (Prescription)

l     Sesi (Cessi; penyerahan) 

Kehilangan Kedaulatan:

l     Dereliksi

l     Ditaklukan

l     Operasi alam

l     Preskripsi

l     Pemisahan diri (Secession

Pendudukan (occupation):

l     Penegakan kedaulatan atas wilayah yg bukan di bawah wewenang negara lain yg  baru ditemukan. Bukan terra nullius. Prinsip kefektifan.

l     Teori kontinuitas & teori hubungan.    

Aneksasi:

l     Wilayah yang dianeksasi telah ditaklukan oleh negara yang  menganeksasi.

l     Wilayah yang dianeksasi benar-benar berada dalam posisi lebih rendah daripada negara penganeksasi pada waktu pengumuman maksud negara penganeksasi. 

Akresi:

l     Suatu negara baru ditambahkan melalui sebab-sebab alamiah. Tidak perlu pernyataan perolehan hak. 

Penyerahan (Cession):

l     Prinsip: hak mengalihkan teritorial adalah sifat fundamental dari kedaulatan negara. Sukarela atau paksaan (mirip aneksasi). Transaksi. 

Preskripsi:

l     Hasil pelaksanaan kedaulatan de facto secara damai untuk jangka waktu yang sangat lama atas wilayah yang tunduk pada kedaulatan negara yang satu. 

Kedaulatan atas Wilayah Udara:

l     Usque ad coelum. Kebebasan melintas dengan damai (innocent passage). Lima kebebasan udara. Konvensi Penerbangan Sipil Internasional. Ijin khusus penerbangan di atas wilayah. Doktrin kedaulatan di wilayah udara tertutup. Pendekatan bilateralisme. 

Hal lain terkait Wilayah Udara:

l     Prinsip pengaturan radio komunikasi. Perlindungan efek teknologi modern di udara. Polusi udara dan kebisingan.  

Atmosfer dan Angkasa luar:

l     Masalah sipil & militer. Ekspedisi angkasa luar. Milik bersama, bebas dari klaim kedaulatan. Usque ad coelum tak dapat berfungsi.

l     Kebebasan eksplorasi & kesetaran hak penggunaan. Untuk kebaikan umat manusia.

l     Informasi peluncuran satelit. Tanggung jawab negara. Non diskriminasi. Kedaulatan atas benda yang diluncurkan. Kemudahan penerbangan luar angkasa dan pendaratan. Demiliterisasi.

  

Handout Kuliah 4: Sumber-sumber Hukum Internasional

August 25, 2007

SUMBER HUKUM INTERNASIONAL.

Sumber: Starke (1989), Brownlie (1979), Shelton (2006), Riesenfeld (2006). 

Pengertian: 

n     Bahan-bahan aktual yang digunakan para ahli untuk menetapkan hukum yang berlaku bagi suatu situasi tertentu. 

Pasal 38 Ayat (1) Piagam ICJ: 

n     a. Treaty: Konvensi internasional, baik umum ataupun khusus, membentuk aturan2 yang secara nyata diakui oleh negara-negara; 

n     b. Customary International Law: Kebiasaan internasional yang terbukti dalam praktek umum dan diterima sebagai hukum; 

n     c. General Principles of Law recognized by Civilized Nations: Asas-asas umum hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab; dan,  

n     d.Keputusan-keputusan pengadilan & ajaran para sarjana terkemuka dari berbagai negara sebagai sumber tambahan dalam ICJ membuat keputusan. Tunduk pada Pasal 59 Konvensi (Kekuatan mengikat keputusan hanya pada pihak terkait). 

Treaty/Traktat/Perjanjian: 

n     Susunan menurut Pasal 38 Konvensi ICJ tidak hirarkis tetapi merupakan tertib. Sumber a dan b merupakan yang terpenting. Sumber a adalah sumber tentang kewajiban para pihak. 

n     Traktat merupakan perjanjian tertulis yang dibentuk oleh dua atau lebih negara berdaulat atau oleh satu negara dan satu organisasi internasional. Kekuasaan untuk mengikuti hubungan dalam traktat merupakan atribut penting dari kedaulatan.  

n     Aturan utama (cardinal rule) dalam hukum internasional menyangkut traktat adalah bahwa traktat yang dibentuk secara sah akan mengikat para pihak yang harus melaksanakannya dengan itikad baik. 

n     Aturan internasional yang mengatur pembentukan, validitas, efek, interpretasi, modifikasi, penundaan (suspension) dan pengakhiran (termination) traktat dikodifikasi dalam Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Vienna), yang diadopsi tahun 1969.  

Customary international law/Hukum Kebiasaan Internasional: 

n     Bersifat tidak tertulis dan diturunkan dari praktek-praktek nyata negara-negara dalam jangka waktu lama. Untuk diterima sebagai hukum, suatu kebiasaan haruslah dipraktekan secara terus-menerus, meluas, dan seragam serta konsisten di antara bangsa-bangsa. Contoh hukum kebiasaan internasional: hak satu negara untuk memanfaatkan laut bebas (high seas) untuk penangkapan ikan, navigasi, penerbangan, dan kapal selam. 

n     Hubungan Treaty dan Customary International Law:

Traktat juga bisa menjadi sumber pembentukan hukum kebiasaan internasional. Meskipun traktat umumnya hanya mengikat negara-negara yang meratifikasinya, tetapi kebiasaan dapat diambil dari isi traktat tersebut. Kebiasaan-kebiasaan baru itu bisa mengikat pihak lain yang tidak ikut serta dalam perjanjian tersebut. Meskipun tidak mereka tidak dituangkan dalam satu perjanjian tertulis, kebiasaan dapat menjadi bagian dari hukum internasional karena penerimaan yang berkelanjutan dari sebagian besar negara-negara. 

n     Beberapa hukum kebiasaan internasional telah dikodifikasikan pada waktu lalu. Contohnya Vienna Convention on the Law of Treaties, yang mengkodifikasi hukum kebiasaan internasional bahwa traktat yang dibentuk secara sah akan mengikat para pihak yang harus melaksanakannya dengan itikad baik. 

n     Kebiasaan (custom) dan adat istiadat (usage). Pasal 38: 1(b), implikasi: pengakuan negara akan kebiasaan tertentu sebagai kewajiban.  Usage: praktek umum, tidak mencerminkan kewajiban hukum. 

¨    Sumber kebiasaan: korespondensi diplomatik, press release, legislasi negara, pola perjanjian, dll. 

¨    Contoh: Amerika Serikat tidak meratifikasi Vienna Convention on the Law of Treaties (Konvensi Vienna), tetapi mengakuinya sebagai hukum kebiasaan internasional. 

Elemen Kebiasaan: 

n     Jangka waktu. 

n     Konsistensi pelaksanaan. 

n     Sifat umum dari tindakan. 

n     Opinio juris sive necessitatis.

  

General Principles of Law/Asas-asas Hukum Umum: 

n     Istilah ’General Principles of Law’ muncul dalam statuta Permanent Court of International Justice (pendahulu ICJ), yang didirikan tahun 1921 sesudah Perang Dunia I. Latar belakang munculnya sumber hukum ini, adalah untuk menampung masalah-masalah yang harus diputuskan oleh pengadilan tetapi belum diatur dalam traktat atau belum menjadi hukum kebiasaan internasional. Dirumuskan sebagai general principles of law recognized by civilized nations. Sehingga pengadilan tidak bisa menolak penyelesaian sengketa dengan alasan ketiadaan hukum internasional.  

n     Dilanjutkan oleh ICJ, termasuk: doktrin ’clean hands’ (adalah tidak patut untuk menuduh seseorang akan pelanggaran yang mana sang penuduh juga ikut serta di dalamnya),  prinsip bahwa individu tidak boleh menjadi hakim dalam sengketanya sendiri, dan prinsip res judicata (kasus yang telah diadili tidak dapat diadili kembali). 

n     Diakui dalam praktek secara domestik.  

n     Dalam praktek peradilan (tribunal): 

¨    Peradilan arbitrase 

¨    ICJ dan pendahulunya. 

n     Digunakan secara analogi dan diperoleh dengan jalan memilih konsep-konsep umum bagi semua sistem hukum nasional. (Pandangan hakim tidak selalu = asas umum). 

Pendapat Ahli: 

n     Materi subsider bagi putusan hukum. 

n     Ajaran yang bersifat Doktrin. 

         Pelajari juga isi website berikut ini: http://www.walter.gehr.net/frame2.html 

Handout Kuliah 3: Hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

August 25, 2007

Hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional. 

Sumber: Starke (1989); Shelton (2006). 

Teori Monisme dan Dualisme: 

n     Monisme: hukum internasional & hukum nasional merupakan dua aspek yang sama dari satu sistem, yaitu hukum pada umumnya. 

n     Dualisme: hukum internasional & hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang berbeda sama sekali, hukum internasional berbeda secara intrinsik dengan hukum nasional. 

Teori Dualisme: 

n     Triepel (1899): Perbedaan menurut Subyek Hukum (HN: Individu. HN: negara) & Sumber-sumber Hukum (HN:kehendak negara. HI: kehendak bersama negara-negara). Anzilotti (1928): Perbedaan menurut asas fundamental (HN:ketaatan perundang-undangan nasional. HI: pacta sund servanda). Kedua ahli di atas termasuk aliran Positivis. 

n     Perbedaan lainnya didasarkan pada sumber formal sistem hukum (HI: hukum kebiasaan, traktat. HN: undang-undang, yurisprudensi.) 

Teori Monisme: 

n     Didasarkan pada analisis ilmiah terhadap struktur intern sistem hukum itu. 

n     Hukum merupakan satu kesatuan tunggal dari peraturan hukum yang mengikat negara-negara, individu, ataupun kesatuan-kesatuan bukan negara. 

n     HI & HN merupakan bagian dari himpunan peraturan yang universal yang mengikat semua oknum, baik secara kolektif maupun secara individual. Individu menjadi pokok pangkal dari semua sistem hukum. 

Pengutamaan (Primacy): 

n     Primacy pada HI atau HN? 

n     Doktrin ‘Hirarki’ Kelsen. Analisis struktural atas HI & HN: “Asas-asas hukum ditentukan oleh asas-asas lainnya yang menjadi sumber dan sebab kekuatan mengikat asas hukum itu”.  

n     Postulat dasar: dari asas ke asas, dari peraturan ke peraturan yang lebih tinggi dan seterusnya sampai akhirnya mencapai asas atau kaidah fundamental tertinggi yang merupakan sumber dan dasar dari semua hukum. 

n     Kelsen termasuk penganut Primacy Hukum Nasional. 

n     Masalah: 

1.     Konstitusi negara bisa berubah. 

2.     Negara baru harus menerima aturan pergaulan masyarakat internasional. 

n     Primacy Hukum Internasional: Hukum Nasional memiliki kebebasan tetapi tunduk pada HI yang membatasi. Masalah: Letaknya supremasi HI. 

Teori Transformasi dan Adopsi: 

n     Pelaksanaan HI oleh pengadilan nasional memerlukan adopsi spesifik (specific adoption) / inkorporasi spesifik oleh dan kedalam HN.  

n     Dalam hal Traktat, perlu ditransformasikan terlebih dahulu kedalam HN. 

n     Syarat formal dan substansial. 

n     Dasar teori: sifat konsensual HI. 

n     Teori Transformasi: Ada perbedaan antara Traktat yang bersifat janji (promises) dan UU yang bersifat perintah (command). 

n     Teori Delegasi. Oleh penentang teori Transformasi. Ada delegasi HI kepada Konstitusi HN mengenai hak-hak pemberlakuan Traktat / Konvensi. Kelanjutan pembuatan Traktat/Konvensi.  

Praktek oleh Negara-negara: 

n     Inggris: mengakui eksistensi HI sejauh tidak bertentangan dengan HN (melalui pengundangan oleh Parlemen) atau telah dinyatakan oleh badan peradilan nasional. Terhadap traktat diberi pengakuan oleh HN dan Ratu (melalui Parlemen). 

n     AS: Hukum kebiasaan langsung diinkorporasikan sebagai hukum federal yang tidak tertulis. Namun terhadap traktat sangat berbeda: tergantung sifat traktat yang self-executing & non-self executing. Dalam Konstitusi AS, Article 1 section 8, memberikan kekuasaan kepada Kongres AS “to define and punish … Offences against the law of Nations”. 

n     Negara-negara lain: Bervariasi. Ada yang dengan atau tanpa prosedur inkorporasi. Prosedur ratifikasi dan asas publisitas bervariasi. Cara setiap negara melakukan adopsi dan menerapkan hukum internasional umumnya merupakan diskresi negara, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum. Praktek pengadilan mengutamakan HN dan urusan internasional menjadi masalah diplomatik. 

Pengadilan Internasional dan Hukum Nasional: 

n     Pengutamaan hukum nasional oleh pengadilan-pengadilan nasional dalam hal adanya pertentangan dengan hukum internasional tidak mempengaruhi kewajiban negara itu untuk menunaikan kewajiban-kewajiban internasionalnya.  

n     Apapun bentuk Hukum Nasional & Konstitusi sebuah negara, tidak bisa digunakan sebagai alasan untuk menyimpangi perjanjian internasional atau melanggar aturan internasional. Contoh: dalam Pengadilan Penjahat Perang Dunia II di Nürnberg, Jerman. Pengadilan menolak alasan bahwa pembunuhan terhadap tawanan perang diijinkan oleh hukum nasional dari pemerintah Nazi Jerman. Pengadilan menyatakan bahwa hukum tersebut dibatalkan dan tidak berlaku (null and void) karena bertentangan dengan aturan-aturan sah mengenai peperangan. Pengadilan juga berpendapat bahwa individu yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan dan melaksanakan hukum tersebut bertanggung jawab secara pidana terhadap pelanggaran hukum internasional. 

n     Sekarang ini, pengadilan-pengadilan hak asasi manusia internasional sering menyatakan hukum nasional tertentu tidak sesuai (incompatible) dengan aturan-aturan internasional dan bisa memberikan kompensasi kepada mereka yang hak-haknya dilanggar. 

Konsep Oposabilitas: 

n     Starke: dalam sengketa di mahkamah internasional antara negara A & B, dimana A berpijak pada suatu landasan untuk mendukung tuntutannya, negara B dapat mengusahakan suatu perlawanan yaitu “menentang” (oppose) negara A, dengan mencari suatu asas, lembaga, atau rezim di bawah hukum nasional negara B untuk menumbangkan landasan argumentasi negara A. 

n     Sebagai prinsip umum, jika asas, lembaga, atau rezim nasional adalah sesuai dengan hukum internasional, maka ini dapat dipakai secara “sah” menentang negara A untuk menyangkal dasar tuntutannya, tapi jika tidak sesuai maka hal-hal itu tidak dapat digunakan untuk “menentang”.  

Handout Kuliah 2: Negara menurut Hukum Internasional

August 24, 2007

NEGARA MENURUT HUKUM INTERNASIONAL.

 Sumber: Starke (1989); Shelton (2006). 

Syarat/Kualifikasi Negara:

 

o    Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933: Negara sebagai suatu pribadi hukum internasional seharusnya memiliki kualifikasi-kualifikasi berikut: (a) penduduk yang permanen; (b) wilayah tertentu; (c) suatu pemerintahan; dan (d) kemampuan untuk berhubungan dengan negara-negara lain.

 o    Dari segi HI, syarat (d) paling penting. 

Hak dan Kewajiban Dasar:

 

o    Hak kemerdekaan dan persamaan kedudukan negara-negara, yurisdiksi teritorial dan hak untuk membela diri atau menyelamatkan diri.

 o    Kewajiban untuk tidak menggunakan perang sebagai alat, melaksanakan kewajiban yang digariskan dalam perjanjian dan tidak campur tangan dalam urusan negara lain. 

Kedaulatan dan Kemerdekaan:

 o    Teori Residuum

o    Hak, wewenang, privilese, dan tugas korelatif adalah substansi kemerdekaan. Contoh wewenang: mengurus diri sendiri, menerima/mengusir orang asing, yurisdiksi atas tindak pidana. Contoh tugas: menghormati kedaulatan negara lain, mencegah tindak agen yang mengancam negara lain, tidak mencampuri urusan negara lain.

o    Kasus penangkapan Adolf Eichmann dari Argentina ke Israel.

o    Pencegahan tindakan terorisme.

o    Piagam PBB. Bentuk intervensi: 1) “internal” intervention; 2)“external” intervention; 3) “punitive” intervention; 4) “subversive” intervention. Terdapat Pengecualian. Menurut standar Piagam PBB. Kasus pasukan AS di Beirut. Doktrin Persamaan Kedudukan Negara:

o    Sudah muncul sejak 1749 (tulisan karya Christian Wolff).

o    Piagam PBB Pasal 1: penghormatan terhadap prinsip persamaan hak. Pasal 2: PBB didasarkan atas prinsip persamaan kedaulatan dari semua anggota.

o    Persamaan dalam hukum & persamaan hak dan kewajiban. Doktrin “Act of State” Aturan hubungan bersahabat antara Negara-negara:

o    Prinsip sebuah negara tidak seharusnya mengijinkan wilayahnya digunakan untuk tujuan-tujuan yang merugikan kepentingan negara-negara lain. Kasus Arbitrasi Trail Smelter 1941; Kasus Selat Corfu 1949. Pasal 74 Piagam PBB. Bentuk Negara dan Kesatuan Bukan-Negara:

o    Negara Federal & Negara Konfederasi

o    Negara Vassal/Lindungan & Protektorat

o    Dominion

o    Commonwealth countries / Negara-negara Persemakmuran.

o    Wilayah Perwalian

o    Wilayah yg tak berpemerintahan sendiri

o    Negara-negara Netral.

o    Right of Self-Determination (hak menentukan nasib sendiri).

o    Asosiasi Negara. Tugas:

1.     Apakah perbedaan antara Negara Federal dengan Negara Konfederasi, Negara Vassal, Protektorat?

2.     Apakah perbedaan antara Dominion dan Commonwealth/Persemakmuran?

3.     Apakah perbedaan antara Wilayah Perwalian dan Wilayah yang tak Berpemerintahan sendiri?

 Jelaskan dalam bentuk tabel.

Handout Kuliah 1: Perkembangan Hukum Internasional

August 24, 2007

PERKEMBANGAN HUKUM INTERNASIONAL.

(Sumber: Starke, 1989; Shelton, 2006). 

p    Definisi:

Keseluruhan hukum yang untuk sebagian besar terdiri atas sendi-sendi dan aturan-aturan perilaku terhadap mana negara-negara merasa dirinya terikat untuk menaatinya dan karena itu pada umumnya memang menaatinya dalam hubungan antara negara-negara itu satu sama lain. (Charles Cheney Hyde) 

p    Prinsip-prinsip, aturan-aturan, dan standard-standard yang  mengatur bangsa-bangsa dan partisipan lainnya dalam hubungan antara mereka satu dengan lainnya. Hukum internasional adalah hukum dari masyarakat internasional. Kebanyakan hukum internasional terdiri dari kebiasaan yang sudah berlaku lama, traktat-traktat berisi ketentuan-ketentuan yang disepakati, dan prinsip-prinsip umum yang diakui oleh bangsa-bangsa. Beberapa hukum internasional juga diciptakan oleh keputusan pengadilan internasional atau organisasi internasional. (Shelton). 

p    Meliputi juga:

n     Aturan hukum yang terkait dengan fungsi lembaga dan organisasi internasional, hubungan antar lembaga atau organisasi dan hubungan mereka dengan negara dan individu; dan

n     Aturan-aturan hukum tertentu yang bertalian dengan individu dan satuan bukan negara sejauh hak dan kewajiban mereka merupakan kepentingan masyarakat internasional. 

p    Definisi tradisional:    Suatu sistem yang terdiri atas aturan-aturan yang menguasai hubungan-hubungan antara negara-negara.

p    Kelemahan: tidak lengkap dan tidak sesuai  dengan perkembangan hukum internasional. 

p    Cikal bakalnya dapat ditemukan pada perjanjian, hubungan antar wilayah, peraturan hukum, dan kebiasaan perang di Mesir-kuno dan India-kuno. (A.Nussbaum)

p    Bentuk gantawinya: hukum intermunisipal yaitu hukum yang mengatur hubungan antar negara-kota masa Yunani-kuno. (Vinogradoff) 

Perkembangan penting:

p    Jus gentium.

p    Pertumbuhan negara-negara beradab di Eropa abad XV.

p    Masa Pencerahan (Enlightment/Renaissance) ilmu pengetahuan.

p    Reformasi (pemisahan gereja & negara).

p    Munculnya teori-teori kedaulatan negara: Bodin (1530-1596), Machiavelli (1469-1527); Hobbes (1588-1679).

p    Pertumbuhan negara merdeka melahirkan praktek hubungan antar negara dan teori-teori baru hukum antar bangsa (pengaruh teori hukum alam).

p    Hukum internasional abad XVI: hukum perang antara negara-negara.

p    Karya penting: Huig de Groot atau yang dilatinkan sebagai Hugo Grotius. Bukunya yang terkenal berjudul De Iure Belli ac Pacis (On the Law of War and Peace), terbit tahun 1625. Grotius berpendapat bahwa kebiasaan-kebiasaan yang ada yang mengatur hubungan antar bangsa memiliki daya paksa secara hukum dan mengikat mereka yang ada di dalamnya kecuali jika bertentangan dengan keadilan alami atau hukum alam (natural law), yang merupakan hukum tertinggi yang tidak dapat disimpangi yang mengatur keseluruhan perilaku manusia. Pengaruh pemikiran Grotius sangat besar terhadap urusan-urusan internasional dan penyelesaian peperangan, sehingga sering disebut sebagai ‘bapak hukum internasional’. Gagasan-gagasannya menjadi batu penjuru sistem internasional yang dibangun oleh Perjanjian Perdamaian Westphalia (1648), sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Tigapuluh Tahun.

p    Sebelumnya tahun 1609, Grotius melalui bukunya Mare Liberium (The Free Sea) menentang klaim negara manapun terhadap laut terbuka sebagai milik eksklusif negara. Klaim semacam itu menurut Grotius, bertentangan dengan hukum alam dan hukum-hukum dasar kemanusiaan. Menurutnya laut tidak dapat dimiliki karena laut tidak dapat didiami sebagaimana tanah yang didiami oleh manusia.

p    Pasca Grotius: berkembang pemikiran “positivis”namun dalam pengaruh hukum alam. Konflik ini masih berlanjut sampai sekarang terutama berkaitan dengan masalah jus cogens.

p    Abad XIX: Kemunculan negara kuat, ekspansi keluar Eropa, Modernisasi transportasi, Perang modern & Penemuan baru. Kebutuhan aturan & prinsip hukum internasional. 

TUGAS 1: Apakah yang dimaksudkan dengan aliran Natural Law dan apa perbedaannya dengan aliran Positivisme? Jelaskan pemahaman anda. 

Perkembangan hukum internasional Abad XX: 

p    Mahkamah Arbitrase Permanen (1899).

p    Mahkamah Internasional Permanen (1921), kemudian Mahkamah Internasional atau International Court of Justice/ICJ (1946).

p    Pembentukan Liga Bangsa-bangsa yang diganti oleh Perserikatan Bangsa-bangsa.

p    Organisasi Buruh Dunia, dll.

p    Organisasi Penerbangan Sipil Internasional. Dll. 

Ciri penting politik internasional Abad XX:

p    Kemunculan negara-negara merdeka di Asia dan Afrika. Perubahan dominasi pemikiran hukum internasional dari pemikir Barat.

p    Positivisme hukum internasional.

p    Kekuatan senjata nuklir, Asosiasi-asosiasi negara, Instabilitas politik negara berkembang di dunia ketiga.

p    Pembentukan organisasi internasional yang permanen (PBB; WTO; dll) yg berhubungan dengan negara.

p    Gerakan perlindungan hak asasi manusia secara global, termasuk pengadilan internasional terhadap kejahatan perang. (muncul hukum pidana internasional). HI menjadi syarat bagi satu negara untuk masuk dalam pergaulan antar bangsa.

p    Traktat pembuatan hukum (law making treaties); Peraturan internasional (international legislation).

p    Popularitas arbitrasi. Kemantapan ICJ. Peran International Law Commission. Kehadiran WTO dengan dispute settlement procedure yang efektif. 

Kritik atas Hukum Internasional:

       Penegakan hukum internasional sulit dilakukan karena negara adalah kekuatan berdaulat yang akan lebih mementingkan kepentingan mereka sendiri daripada kepentingan internasional. Selain itu, mekanisme penegakan masih muda dan belum mapan.

       Pelanggaran-pelanggaran yang menimbulkan perang sering dianggap bentuk runtuhnya hukum internasional.

       Aturan-aturan hukum internasional hanyalah untuk menjaga perdamaian;

       Sebagian besar hukum internasional tidak terkait dengan perang. Tapi sedikit mengalami publisitas.

       Hukum internasional terkait pula dengan masalah kewarganegaraan, ganti kerugian orang asing, deportasi, ekstradisi, perdagangan, keuangan, dll. 

Tujuan Hukum Internasional:

p    Menyelesaikan masalah-masalah dalam lingkup regional atau global (seperti polusi lingkungan atau global warming), meregulasi wilayah-wilayah yang berada di luar sebuah negara (seperti luar angkasa dan laut bebas), dan mengadopsi aturan-aturan bersama bagi kegiatan multinasional (seperti jasa penerbangan udara dan pos).

p    Juga dimaksudkan untuk Memelihara PERDAMAIAN:

n     Membentuk kerangka kerja yang memudahkan pergaulan internasional.

n     Menghindari penderitaan yang tidak perlu akibat perang dan meningkatkan kondisi hidup manusia dalam masa damai.

n     Membentuk sistem hukum yang sempurna. (Beckett) 

TUGAS 2: Apakah salah satu masalah global di bidang lingkungan hidup yang memerlukan perhatian hukum internasional pada masa sekarang?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.